Loading...

Sabtu, 30 Januari 2010

Filsafat Etika

ETIKA TELEOLOGI (EUDEMONISME) ARISTOTELES:
KEMBALI KE KEBAJIKAN MORAL
Oleh: Abdul Choliq Mi'roj

Hanya seseorang yang memiliki karakter yang terbentuk dengan baik dapat memperoleh manfaat dari studi abstrak etika, karena hanya orang semacam itu dapat berlaku universal dengan benar mempertimbangkan kasus-kasus tertentu, untuk melakukan hal ini diperlukan intuisi.
(Aristoteles)


A. PENDAHULUAN

Sejak era Aristoteles filsafat dibagi ke dalam filsafat teoritis dan filsafat praktis. Yang teoritis merefleksikan realitas yang ada, yang praktis bertanya bagaimana kita harus bertindak.
Etika, termasuk filsafat praktis. Etika tidak hanya bertanya bagaimana manusia bertindak, melainkan bagaimana ia seharusnya bertindak. Bukan seakan-akan etika dapat langsung menentukan bagaimana kita harus bertindak secara kongkrit, akan tetapi, etika menawarkan pertimbangan-pertimbangan yang hendaknya kita pergunakan untuk menentukan sendiri keputusan dan tindakan yang tepat.
Teori yang ditawarkan Aristoteles rupanya ingin menjawab pertanyaan yang umum ditanyakan setiap manusia; apa yang membuat hidup itu baik, apa yang membuat hidup itu layak kita jalani, apa yang harus kita lakukan supaya kita bukan hanya hidup, tetapi hidup yang baik?
Hidup yang baik, kata Aristoteles, adalah hidup yang bahagia. Jadi baik itu bahagia. Tetapi ada banyak baik di dunia ini; good birth, good healt, good look, good luck, good reputation, good friends, good money, and goodness. Apa hubungannya “baik-baik” yang banyak itu dengan bahagia? Menurut Aristoteles, hidup yang bahagia adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik seperti keturunan, kesehatan, ketampanan, peruntungan, reputasi, persahabatan, kekayaan, dan lain-lain. Hal-hal yang baik itu adalah komponen kebahagiaan. Semuanya kita cari untuk mencari kebahagiaan.
Ini berarti bahwa kebahagiaan adalah keinginan kita terakhir. Kebaikan lainnya kita kejar demi meraih kebahagiaan. Kebahagiaan kita raih tidak untuk tujuan lainnya. Kebaikan adalah summum bonum, kebaikan tertinggi. Demikian pernyataan Aristoteles yang paling terkenal dan selalu menjadi perbincangan para filosof tentang kebahagiaan dalam hidup. Kebahagiaan diinginkan untuknya sendiri, tidak untuk lainya. Tetapi kehormatan, kesenangan, pemikiran dan setiap kebaikan, kita pilih untuk meraih kebahagiaan, dengan mengambil keputusan bahwa melalui kebaikan-kebaikan itulah kita akan bahagia. Pada sisi yang lain, orang memilih kebahagiaan tidak untuk kebaikan lainnya. Jadi kebahagiaan adalah sesuatu yang final dan mencukupi sendiri.
Aristoteles pernah menyatakan, bahwa tidak ada orang yang berwajah buruk dan dari keturunan yang buruk hidup bahagia. Sebab ia menyebutkan syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan yang berlangsung lama adalah good birth, good healt, good look, good luck, good reputation, good friends, good money, and goodness. Karena itu, Aritoteles mengutip ucapan Simonid kepada istrinya, ketika ditanya mana yang lebih baik menjadi orang bijak (seperti filsuf) atau orang kaya. “Orang kaya, karena kita melihat orang bijak menghabiskan waktunya di depan pintu orang kaya.”


B. PEMBAHASAN

a. Sekilas tentang Aristoteles
Sebelum memperbincangkan pemikiran-pemikiran Aristoteles, khususnya di bidang Etika, akan lebih mudah jika kenali dahulu sejarah hidupnya;
Aristoteles lahir di Stagira, Macedonia, Timur Laut Thrace pada tahun 384 SM. Ayahnya adalah seorang ahli fisika yang ternama, yang mengabdi kepada Amyntas II, penguasa Macedonia. Kedua orang tuanya meninggal ketika Aristoteles masih berusia muda, sehingga tanggung jawab pendidikannya dialihkan kepada keluarganya. Ketika berusia 18 tahun, Aristoteles dikirim ke Athena untuk berguru kepada Plato. Ia belajar di Akademia Plato selama 20 tahun, sampai Plato meninggal.
Setelah Plato meninggal, Aristoteles mengembara bersama Xenokrates. Keduanya menuju Asia Minor dan tinggal di kota Atarneus yang dikuasai murid Plato, Hermeias, selama 3 tahun. Hanya sayangnya, kota tersebut diserang oleh tentara Persia. Hermeias pun ditangkap dan dibawa ke Persia, lalu dibunuh di sana. Aristoteles dan rekannya berhasil menyelamatkan diri. Pada saat di pengasingan, ia mendapat undangan dari raja Macedonia, Philipos, untuk mengajar anaknya Alexander yang baru berusia 13 tahun. Alexander inilah yang dikemudian hari menjadi raja Macedonia dan penguasa yang berhasil merebut kembali Persia. Pada tahun 335 SM, Aristoteles kembali ke Athena. Kemudian pada tahun 531 SM, ia mendirikan pusat pendidikan Akademia di Lyceum, dekat dengan puri Dewa Lyceus, yang disebut Peripatos.
Sebutan Peripatos ini disebabkan dari cara mengajar Aristoteles yang mengikuti metode gurunya, Plato, yakni dengan cara berjalan-jalan. Dari kebiasaan metode mengajar inilah muncul sebutan peripatetic. Namun kedekatan Aristoteles dengan Alexander, membuat Aristoteles tidak nyaman tinggal di Athena, karena dicurigai oleh banyak kalangan. Aristoteles tidak ingin bernasib seperti Socrates yang dihukum mati karena tuduhan yang tidak rasional. Sehingga ia pindah ke Chalcis dan tinggal di sana sampai meninggal pada tahun 322 SM.
Aristoteles adalah ilmuwan terbesar zaman Eropa Kuno dan pendidik Iskandar Agung yang juga merupakan murid sekaligus pengikut Plato. Pengaruhnya sangat besar, dan bahkan mungkin paling besar dari sekian banyak filsuf Yunani. Lebih dari dua abad Aristoteles dianggap sebagai pemegang otoritas intelektual di dunia Barat. Karya-karyanya tetap menimbulkan minat dan dikaji secara serius oleh para peminat filsafat.
Filsafat Aristoteles terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Kekayaan bidang kajian Aristoteles dapat ditelusuri melalui berbagai karya yang dihasilkannya. Bahkan bukan hanya jumlah judul yang sangat banyak, melainkan juga bidang kajian yang juga sangat luas dan mencakup astronomi, zoology, geografi, embriologi, geologi, fisika, anatomi, dan psikologi. Aristoteles mampu membuktikan dirinya sebagai filsuf orisinil. Poedjawijatna mengungkap pokok-pokok filsafat Aristoteles menjadi empat pembahasan utama, yakni logika, fisika, metafisika, dan etika.

b. Etika Eudemonisme
Pembahasan kita fokuskan pada persoalan etika yang digagas oleh Aristoteles. Yakni etika Teleologi atau sering juga disebut dengan Eudemonisme. Karena etika ini cukup menyita perbincangan para pemikir dan praktisi di bidang etika.
Prinsip dasar etika Aristoteles adalah bahwa kita hendaknya hidup dan bertindak sedemikian rupa, sehingga kita mencapai hidup yang baik, bermutu, dan berhasil. Hidup kita berhasil apabila kita mencapai tujuan terakhir yang kita cari melalui segala usaha kita, yakni kebahagiaan, yang dalam bahasa Yunani disebut dengan eudaimonia. Maka etika Aristoteles disebut dengan eudemonisme. Kebahagiaan akan semakin kita nikmati, jika kita merealisasikan potensi-potensi kita sebagai manusia. Etika menawarkan petunjuk ke hidup bahagia tersebut. Atau disebut juga dengan Teleologi, yakni teori atau ajaran bahwa semua kejadian (setiap gejala) terarah pada suatu tujuan. Adapun tujuan akhirnya adalah kebahagiaan.
Etika adalah ilmu tentang hidup yang baik. Semakin bermutu hidup manusia, semakin ia bahagia. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana manusia harus hidup agar ia bahagia. Pandangan bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan mengejar nikmat, kekayaan atau kedudukan terhormat diperlihatkan sebagai salah. Melainkan manusia menjadi bahagia jika ia merealisasikan diri secara sempurna, dan itu berarti, dengan mengaktifkan kekuatan-kekuatan hakikatnya.
Kekuatan-kekuatan itu adalah kemampuan bagian jiwa manusia yang berakal budi; akal budi murni yang mengangkat diri ke kontemplasi hal-hal abadi (theoria) dan akal budi praktis yang terlaksana dalam kehidupan aktif di tengah masyarakat (etika). Aristoteles tampaknya mengikuti jejak gurunya, Plato, tentang pentingnya etika dalam kehidupan manusia. Menurutnya, masalah etika adalah masalah yang rumit dan sangat komplek.
Menurut Aristoteles, kebaikan tertinggi atau yang biasa disebut summum bonum adalah puncak dari segala tujuan. Semua yang ada dalam hidup ini hanyalah alat untuk mencapai tujuan tertinggi itu. Kekayaan, kemuliaan, reputasi, kesempatan dan sejenisnya hanyalah alat untuk mencapai sesuatu yang lain. Sementara kebaikan tertinggi adalah sesuatu yang lain, yang diperoleh dengan alat-alat, sarana. Kebaikan tertinggi merupakan suatu pemberhentian pada diri sendiri. Tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan.
Kebahagiaan merupakan tujuan akhir, bukan sebagai alat untuk mencapai yang lainnya. Bagaimanapun, kebahagiaan dapat diperoleh melalui berbagai cara. Namun, tidak semua kebahagiaan dinamakan suatu kebaikan. Oleh karena itu, untuk mengisi hidup menjadi lebih bermakna, meliputi sarana dan cara-cara memperoleh kebahagiaan.
Kebahagiaan mesti terletak dalam kegiatan yang khas bagi manusia dan itulah kegiatan bagian jiwa yang berakal budi. Maka nilai tertinggi, kebahagiaan, tercapai apabila manusia menggiatkan akal budi, baik secara murni dalam kontemplasi filosofis, maupun dengan cara aktif melibatkan diri dalam kehidupan komunitas. Manusia hanya dapat bahagia apabila ia tidak bersikap pasif, melainkan aktif. Untuk itu, yang harus diaktifkan adalah kemampuan khas manusia, yakni akal budi.
Tujuan eksistensi manusia adalah untuk melakukan hal-hal seperti keberanian, keadilan dan kebajikan moral yang lain, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan dan intelektual berdasar kebajikan, yang dapat membuat orang yang mampu melakukannya dengan baik.
Perhatikan bahwa tujuannya bukanlah untuk mengembangkan atau memiliki kebajikan ini, tetapi untuk melakukan hal-hal yang mereka buat dan dapat melakukannya dengan baik. Untuk dapat melakukannya dengan baik maka perlu untuk mengembangkan kebajikan, tapi intinya adalah untuk melakukannya, bukan hanya untuk mengerti. Inilah yang membedakan teori Aristoteles dari 'realisasi diri' teori-teori etika yang populer di abad ke-19, yang menurut tujuan kode etik adalah untuk menyempurnakan diri sendiri, untuk mengembangkan potensi seseorang dengan penuh, untuk menjadi manusia yang mengagumkan; tujuan menurut Aristoteles bukanlah untuk menjadi, tetapi harus dilakukan.
Memberi pengertian ‘baik’ harus diterapkan pada hasil maksimal dari fungsi suatu objek. Misalnya, gelas dapat dikatakan baik jika dapat menampung air dengan sempurna. Pola ini dapat dianalogikan pada kehidupan manusia. Manusia dapat dikatakan baik jika ia mampu mengemban tugas untuk apa ia diciptakan. Tujuan dari semua objek bukanlah kesamaan apa yang dimiliki objek lain, melainkan apa yang menjadi ciri khasnya. Manusia berbeda dengan hewan, karena manusia diciptakan sebagai makhluk rasional yang dianugerahi kemampuan daya pikir. Jadi, ukuran baik bagi manusia terletak pada kemampuan mendayagunakan daya pikirnya dengan maksimal.
Manusia memiliki elemen-elemen yang hampir sama dengan hewan, seperti insting dan kapasitas spiritual. Hidup yang baik bagi manusia adalah kemampuannya dalam mengorganisir elemen-elemen tersebut dengan wajar. Karena ketidakseimbangan dalam pengaturan elemen-elemen itu akan berakibat pada ketidakstabilan seseorang. Elemen hewani harus ditundukkan di bawah kapasitas spiritual manusia.
Kebajikan yang tinggi, merupakan hal yang sangat sulit untuk direalisasikan oleh manusia, sekalipun ia memiliki kemampuan dan kapasitas untuk itu. Kebajikan yang telah menjadi kebiasaan menempati posisi puncak dari hidup manusia.
Aristoteles dalam Nichomacean Ethics buku VI.13 membedakan kebajikan 'alami' (apa yang kita sebut temperamen) dari kebajikan moral 'dalam arti sempit'. Seseorang mungkin dilahirkan dengan temperamen tenang atau berani, "tapi kita mencari kehadiran kualitas tersebut dengan cara lain”.

Moral kebajikan dalam arti sempit adalah penyerahan satu perasaan dan tindakan di luar akal. Seseorang dengan temperamen atau jiwa yang tenang akan memiliki kebajikan yang sesuai yakni tenang atau bersemangat. Jadi, kebajikan bukan bagian emosional dari jiwa rasional, dalam arti bahwa perasaan dapat dimodifikasi oleh pikiran - 'mendengarkan', 'taat', 'terbujuk’ oleh alas an.

Kebajikan moral bukan bawaan temperamen. Hal ini dikembangkan dalam perjalanan hidup seseorang dengan habituasi. Hal ini tidak berlaku untuk semua kebajikan; ketajaman pisau bukan merupakan kebiasaan, kebajikan intelektual tidak kebiasaan tetapi kebajikan dari bagian jiwa yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan pemikiran. 'Batu yang secara alami bergerak ke bawah tidak bisa terbiasa untuk bergerak ke atas, bahkan jika seseorang mencoba untuk melatih itu dengan melemparkan ke atas sepuluh ribu kali. Artinya, kebajikan tidak bertentangan dengan alam. Melakukan kebajikan muncul dalam diri kita, melainkan kita diadaptasi oleh alam untuk menerima mereka, dan dibuat sempurna oleh kebiasaan. Sifat manusia dan temperamen pribadi dengan alam superadded meninggalkan hubungan antara perasaan dan berpikir agak tak jelas, sehingga ada ruang untuk pengembangan kebiasaan 'merasa cukup'. "Ini bukan dengan sering melihat bahwa kita mendapatkan indra penglihatan, tetapi kebajikan kita melatih mereka dengan terlebih dahulu kita menjadi hanya dengan hanya melakukan tindakan, berani dengan melakukan tindakan berani”. Setiap kali kita berhasil menahan perasaan dengan memikirkan apakah sesuai dengan situasi yang kita buat lebih mudah untuk melakukan hal yang sama waktu berikutnya; setiap kali kita berpikir panjang memanjakan perasaan kita lebih sulit untuk menahan perasaan seperti itu di masa depan.
Simpulan dari paparan tersebut, menurut Aristoteles, ada dua kebajikan; kebajikan moral dan kebajikan intelektual. Kebajikan moral adalah sarana untuk memperoleh nilai-nilai lain, sementara kebajikan intelektual berakhir pada diri sendiri, dalam artian bahwa kebajikannya akan tetap melekat sekalipun tidak terpakai lagi.
Kedua macam kebajikan itu dapat diilustrasikan sebagai mawas diri (iffah, temperance), yaitu sikap mengendalikan diri dan menghindarkan diri dari perbuatan hina. Kebaikan itu disebut kebajikan moral karena berfungsi sebagai pencapaian tujuan lain, yaitu kesehatan jasmani dan rohani. Sedangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap keindahan adalah kebajikan intelektual sebab mengandung kebaikan pada dirinya.
Salah satu karakteristik etika Aristoteles yang terpenting ialah apa yang disebut sebagai jalan tengah (golden mean). Kebajikan moral merupakan jalan tengah antara dua sikap ekstrim. Semua aktivitas manusia dikatakan baik jika memperhatikan keseimbangan, tidak terlalu sedikit juga tidak terlampau banyak. Dermawan ialah perbuatan baik antara boros dengan pelit. Keberanian adalah menjaga keseimbangan antara pengecut dengan nekad atau sembrono. Di antara rendah diri dan kesombongan ada kerendahan hati. Dan di antara kerahasiaan dan keterbukaan ada kejujuran.
Setiap hari kita melakukan pilihan. Kita memilih yang benar apabila kita memilih yang lebih baik di atas yang kurang baik. Dalam melakukan pilihan itu, kita bukan saja melihat data yang ada tetapi kemungkinan di masa depan. Seringkali yang kurang baik kita korbankan demi sesuatu yang lebih baik di masa depan. Pilihan-pilihan itu dilakukan dengan menggunakan akal. Ketika kita mendapatkan hadiah uang yang banyak, kita harus memilih penggunaan uang itu antara berpesta atau berinvestasi. Orang bijak yang menggunakan akalnya, akan menangguhkan kesenangan yang cepat demi kebahagiaan di masa depan
Aristoteles mengecam orang yang mengambil pilihan pada kesenangan jasmaniyah yang mengorbankan kebahagiaan. Kesenangan jasmaniyah sebentar tapi penderitaan yang diakibatkannya bisa berkepanjangan. Kebahagiaan harus berupa kesenangan, tapi kesenangan jiwa. Kebahagiaan datang hanya kalau kesenangan jiwa ini dinikmati dalam mencari kebenaran. Tetapi kesenangan jiwa terlalu abstrak, kata kaum hedonis. Tidak ada jeleknya menikmati kesenangan jasmaniah, asal kita mengendalikannya dengan akal.
Guna menentukan pilihan-pilihan dengan tepat, maka dalam mempertimbangkannya kita harus bersikap adil. Namun untuk menjadi adil, menurut Aristoteles, manusia harus bertindak dengan adil, padahal untuk bertindak dengan adil, ia sudah mesti adil. Setiap manusia mempunyai bakat alami untuk menjadi adil, tetapi kita hanya menjadi adil melalui latihan, jadi dengan terus menerus bertindak dengan adil. Perlu diperhatikan bahwa orang baru bertindak dengan adil, jika bukan hanya tindakannya secara obyektif kelihatan adil, melainkan apabila tindakan itu dilakukan dengan sikap batin yang memang adil.
Keadilan bukan berarti memberikan perlakuan yang sama pada setiap orang, sebab setiap individu manusia tidaklah sama, apa yang pantas diperlakukan pada seseorang bias jadi tidak cocok untuk diperlakukan kepada orang lain. Keadilan yang sebenarnya ialah perlakuan yang seimbang dan adil sesuai dengan proporsinya. Keadilan juga berarti memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk mendapatkan apa yang diperlukan demi mencapai hidup yang baik, sejauh dapat dicapai tanpa merugikan pihak lain, tentunya dengan memperhatikan syarat-syarat lingkungan dan norma-norma masyarakat di mana ia hidup.
Keadilan sangat membutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu mencakup hidup yang lebih baik pada umumnya. Secara lebih spesifik, Aristoteles mendefisikannya sebagai disposisi atau sikap tetap dalam bertindak sesuai dengan pengertian benar mengenai manusia dan apa yang baik baginya. Tuhan atau alam yang abadi. Secara sederhana, orang itu bijaksana apabila tahu menjalani hidup yang bermutu.
Aristoteles memperhatikan bahwa kebijaksanaan tidak pernah dapat sempurna. Suatu ketrampilan dapat di kuasai sepenuhnya sehingga suatu hasil karya itu tidak ada cacatnya. Akan tetapi kebijaksanaan selalu harus dimulai baru. Maka kalau orang yang sangat terampil dengan sengaja membuat kesalahan, jadi melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma, hal itu membuktikan betapa sempurna ia menguasai ilmunya. Sedangkan apabila orang dengan sengaja bertindak dengan tidak bijaksana, hal itu justru tidak bijaksana dan tidak pernah terpuji.
Berbeda dengan pengetahuan ilmiah, kebijaksanaan selalu mengenai hal-hal yang dapat berubah, itulah tindakan manusia. Karena hanya kalau sesuatu dapat begini atau begitu, maka masuk akal kita mempertimbangkan bagaimana kita melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Lagi pula kebijaksanaan selalu mengenai hal konkret, jadi tidak mengenai prinsip-prinsip abstak. Kebijaksanaan tidak dipelukan pengetahuan ilmiah, melainkan orang harus berpengalaman. Pengalaman mengajarkan kebijaksanaan.
Jadi, orang bijaksana adalah orang yang baik membuat pertimbangan. Tetapi tidak ada orang yang mempertimbangkan sesuatu yang bagaimanapun juga berada di luar kemampuannya. Maka jika ilmu berdasarkan bukti-bukti, sedangkan hal-hal yang prinsip-prinsipnya dapat berubah tidak dapat dibuktikan, maka jelaslah bahwa kebijaksanaan itu bukanlah ilmu dan bukan pula ketrampilan, karena bertindak dan membuat adalah dua hal yang berbeda. Perbuatan mempunyai tujuan di luar dirinya, sedang tindakan tidak. Berbuat dengan baik merupakan tujuan pada dirinya sendiri. Maka yang tersisa hanyalah bahwa kebijaksanaan merupakan sikap yang mencari pengertian benar melalui tindakan yang menyangkut apa yang baik dan buruk bagi manusia.


C. PENUTUP

Seperti diketahui bahwa setiap tindakan (praxis) dan setiap keputusan, begitu pula setiap ketrampilan dan setiap ajaran nampaknya selalu mengejar salah satu nilai. Oleh karena itu, tepatlah bahwa suatu nilai selalu disebut dan dikejar oleh semua. Akan tetapi ada perbedaan dalam tujuan-tujuan, ada kegiatan sendiri menjadi tujuan, ada di mana karya-karya yang dihasilkan dari kegiatan sendiri menjadi tujuannya. Sedangkan tujuannya bukan tindakan itu sendiri, karya atau hasil tindakan itu secara kodrati lebih bernilai daripada kegiatan itu.
Karena ada banyak tindakan, ketrampilan dan ilmu, maka ada juga banyak tujuan; tujuan ilmu perang adalah kemenangan, tujuan ilmu kedokteran adalah kesehatan, tujuan ilmu ekonomi adalah kekayaan. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan, apakah kegiatan-kegiatan itu sendiri yang merupakan tujuan tindakan atau hasil yang dicapai melalui tindakan itu.
Tetapi jika ada suatu tindakan mempunyai tujuan yang kita kehendaki demi dirinya sendiri dan hal-hal lain hanya demi tujuan itu. Jadi jika kita bukannya mengejar segala apa demi sesuatu yang lain lagi, maka jelas bahwa tujuan itu berkaitan dengan ilmu atau kecakapan tertentu.
Namun yang jelas, semua sepakat bahwa kebahagiaan itulah tujuan tertinggi, baik menurut orang kebanyakan maupun menurut mereka yang terdidik, dan mereka menyemakan hidup yang bermutu dan perilaku atau tindakan yang baik dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan merupakan unsur penting dalam hidup. Ada banyak cara untuk mendapatkannya. Kesenangan yang dinikmati seseorang dibatasi oleh sifat kemajuan yang dicapai. Orang baik adalah manusia yang mempelajari kepuasan hidup tertinggi yang timbul dari aktivitas yang menopang seluruh kepribadian. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat seperti itu cenderung melumpuhkan kapasitas kemampuannya dalam mendapatkan kesenangan masa depan.
Jadi, orang baik adalah orang yang memiliki sikap yang tepat terhadap dua perasaan yang menyertai segala tindak-tanduk kita. Jika hal sikap bijak ini dapat dilaksanakan, maka diharapkan manusia dapat kembali membangun bumi ini dengan moral yang lebih bijak dan bajik.


Daftar Pustaka

Adam, Peter, et. Al., Virtue in Ancient Philosophy, California: Wardsworth Publishing Company, 1998.

Aristoteles, Nicomachean Ethics, terj. WD Ross dalam The Works of Aristoteles, Oxford: World's Classics', 1928.

Drajat, Amroeni, MA, DR, Suhrawardi: Kritik Falsafah Peripatetik, Yogyakarta: LKiS, 2005.

Hart, Michael H, Seratus Tokoh paling Berpengaruh dalam Sejarah, Jakarta: Pustaka Jaya, Cet. XVII, 1995.

Hasan, Fuad, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta: Pustaka Jaya, Cet. II, 2001.

Hatta, Muhammad, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: Tintamas, Cet. III, 1986.

Jalaluddin Rahmat, Meraih Kebahagiaan, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2004.

Poedjawijatna, I.R., Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: Pembangunan, Cet. IV, 1978.

Rees, D.A., “Platonism and the Platonic Tradition”, dalam Paul Edwards (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Canada: Collier Macmillan, Cet. I, Vol. V, 1967.

Rile, Gilbert, “Plato”, dalam Paul Edward (ed.), The Encyclopedia of Philosophy, Canada: Collier Macmillan, Cet. I, Vol. V, 1967.

Suseno, Frans Magnis, Tiga Belas Model Pendekatan Etika: Bunga Rampai Teks-teks Etika dari Plato sampai dengan Nietzche, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, Cet. VIII, 2006.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Edisi III, Cetakan kelima, 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar